India dan China Jadi Pasar Terbesar Minyak Sawit Indonesia

Indoensia menjadi salah satu produsen dan eksportir CPO atau Minyak Kelapa Sawit terbesar di Asia. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut bahwa ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia pada bulan Agustus 2018 mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yaitu 3,3 juta ton, sementara itu pada Juli 2018 sebanyak 3,22 juta ton.

Peningkatan pembelian CPO dan produk turunannya Agustus ini paling tinggi dicatatkan oleh India sebesar 823 ribu ton, atau meningkat sekitar 26% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kemudian Negara lainnya juga yang mengalami peningkatan adalah Peningkatan impor CPO dan produk turunannya juga dibukukan oleh China sebesar 26%, Amerika Serikat 64%, negara-negara di Afrika 19% dan Pakistan 7%.

Disaat ada beberapa Negara yang di beberapa kawasan yang megalami peningkatan, hal sebaliknya terjadi untuk penjuala CPO Minyak Kelapa Sawit, di kawasan ekspor ke Uni Eropa turun 10% karena masih tingginya stok minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Penurunan ekspor juga terjadi di Bangladesh sebesar 2% karena telah melakukan impor yang tinggi sehingga stok menumpuk.

Melihat permintaan global akan CPO yang tinggi ternyata belum bisa mendongkrak secara signifikan harga CPO Global secara maksimal. Sepanjang Agustus, harga bergerak di kisaran US$ 542,50 – US$ 577,50 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$ 557,50 per metrik ton. Ini merupakan level terendah sejak Januari 2016 lalu.

Beberapa kebijakan dalam negeri oleh pemerintah yang salah satunya adalah penerapan B20 memang dalam jangka panjang mungkin saja bisa menjadi pendorong kenaikan harga CPO. Namun sampai sekarang masih belum terlihat nyata perubahan untuk mendongkrak harga Munyak Kelapa Sawit.

B20 menjadi harapan para pelaku bisnis Minyak Kelapa Sawit di Indonesia ujar Gapki, perluasan B20 secara lebih menyeluruh menjadi harapan Gapki kepada pemerintah agar mampu menjalankan rencana dan kebijakan sesuai dengan harapan.