Untung Rugi Bisnis Pariwisata Menteri Pariwisata Menjelaskan

Berkecimpung di dunia bisnis memang sangat luas bahasannya. Dalam berbisnis pasti akan ada turun dan naik sebuah usaha yang anda geluti. Salah satu contoh yang kurang diminati yaitu bisnis pariwisata.

Bahkan Arief Yahya Menteri Pariwisata, menilai rendahnya investor lokal untuk ikut terjun di bisnis pariwisata karena masih berpatok pada magrin keuntungan yang akan diperoleh. Berbeda dengan investor asing dalam menyikapinya.

Dalam Acara Regional Investment Forum Pak Menteri mengatakan net profit margin pariwisata tidak terlalu besar, sekitar 10 persen dari modal yang ditanam serta lama tercapainya, Yogyakarta, (14/3).

Arief mengatakan Jangan hanya fokus ke sektor pariwisata saja, tetapi gabungkanlah bisnis pariwisata dengan sektor lain, seperti contoh bisnis properti. Dengan gambaran profit pariwisata yang kecil itulah investor atau pengusaha memang harus memutar otak agar keuntungan yang diperoleh bisa terlihat. Dengan gambaran point yaitu, jika ingin kaya jangan membangun hotel dulu, tetapi kaya lah dulu baru membangun hotel.

Arief menuturkan, ketika bisnis pariwisata diintegrasikan dengan properti seperti hotel, pendapatan yang diperoleh dari kunjungan hotel akan lebih kecil daripada pendapatan yang diperoleh dari harga tanah tempat hotel itu berdiri.

Investasi di bidang bisnis pariwisata ini, ujar Arief, mirip ketika seorang pengusaha membangun jalan tol. Untuk mendapat keuntungan dari tol saja, break event point (balik modal)-nya bisa sampai 20 tahun. Karena itu, para pengusaha memutar otak dengan mengintegrasikan layanan tol dan properti dengan cara membangun pintu-pintu masuknya.

“Kayak di jalan tol di Cikampek, begitu pintu tol dibuka, sudah Rp 2 juta di tangan, itu kalau cuma 20 kendaraan saja yang masuk,” tuturnya.

Mantan Direktur Utama Telkom Indonesia itu pun mendorong investor lokal juga berani dan kreatif saat menginvestasikan modal di bidang bisnis pariwisata. “Kalau mau bisnis itu harus kreatif,” ujar Arief.

Arief juga mencontohkan Jakarta yang kini sedang berinvestasi membangun jalur mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). Untuk mendulang untung dari proyek utama itu, bisa menjual papan iklan di sepanjang jalur yang dilalui. “Untungnya dari advertise MRT dan LRT itu bisa triliunan, pengusaha balik modalnya lebih cepat,” ucapnya.