PLTA Kayan dan Ambisi Pemerintah Mewujudkan Ketahanan Energi di Kalimantan

Listrik yang dihasilkan oleh PLTA Kayan 70 persennya akan disalurkan ke KIPI. sedangkan 30 persen sisanya digunakan sebagai basis ketahanan energi di Kalimantan.

Pemerintah akan segera merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan Kalimantan, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara (Kaltara).

PLTA Kayan, demikian namanya, akan diproyeksikan menjadi pembangkit listrik terbesar yang pernah ada di Indonesia dengan kapasitas 9.000 megawatt (MW). Saat ini, status pembangkit listrik tenaga hidro terbesar masih disandang oleh PLTA Cirata dengan produksi setrum sebesar 1.0008 MW.

Asal tau saja, Sungai Kayan merupakan sungai yang sangat terkenal dengan arusnya yang deras. Hal ini menunjukkan bahwa air listrik di sungai ini mengandung energi yang sangat besar, sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai PLTA.

Program pembangunan pembangkit dengan energi baru yang terbarukan (EBT) tersebut merupakan bagian dari program pemerintah untuk terus memperbaiki bauran energinya.

PLTA Kayan topang kelistrikan di kawasan industri hingga ibu kota baru

Untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah telah menggandeng PT Kayan Hidro Energi (KHE) dan Power China untuk menggarap salah satu proyek strategis nasional tersebut.

Selain itu, dua unit usaha milik BUMN yakni PT Adhi Karya dan Pelabuhan Indonesia IV (Pelindo) juga ikut dilibatkan dalam pelaksanaan konstruksi mega proyek itu.

Gambar PLTA Kayan 1 (Radar kaltara)

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Kepala staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan PLTA Kayan akan diproyeksikan untuk menopang kelistrikan di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasioal (KIPI) yang akan dibangun di Tanah Kuning.

“Jadi tiga kegiatan besar itu sekaligus dalam satu kawasan terintegrasi,” ucap Moeldoko dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara PT KHE dengan Adhi Karya, Pelindo IV dan Power China di Kantor KSP pada pertengahan Agustu lalu.

Dalam kesempatan yang lain, Moeldoko juga menyatakan, listrik yang diproduksi oleh PLTA Kayan akan dimanfaatkan untuk menyokong kebutuhan listrik di ibu kota baru di Kalimantan Timur.

“Nanti PLTA Sungai Kayan bisa menghasilkan listrik cukup besar, yang tidak terlalu jauh di Kalimantan Timur,” terang Moeldoko, Rabu (21/8/2019).

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie mengatakan, proyek PLTA di Sungai Kayan sudah diinisiasi oleh PT Kayan Hidro Energi sejak tahun 2009.

Dia mengungkapkan, proyek pembangunan PLTA Kayan akan dilangsungkan dalam lima tahap. Mula-mula akan dibangun PLTA Kayan 1 dengan kapasitas 900 MW. Kemudian PLTA Kayan 2 dengan target daya sebesar 1.200 MW.

Untuk PLTA Kayan 3 dan 4 akan dibangun dengan kapasitas masing-masing 1.800 MW. Sedangkan PLTA Kayan 5 diproyeksikan menghasilkan daya paling besar yakni 3.200 MW.

“Sehingga jumlah keseluruhan itu 9.000 megawatt. Ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia, bahkan ASEAN,” jelas Irianto Kamis (15/8/2019).

Irianto menambahkan, pembangunan proyek tersebut juga sudah sesuai dengan amanah dari Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2018. Oleh karenanya, perkembangan pembangunan di Sungai Kayan akan dilaporkan secara berkala kepada Presiden.

“Hubungan dengan KSP yang dipimpin oleh Pak Moeldoko adalah tugas beliau untuk mengawasi, mengevaluasi dan mencegah adanya hambatan-hambatan,” tambahnya.

Sebagai basis ketahanan Energi

Direktur Operasional PT Kayan Hidro Energi Khaerony mengatakan, listrik yang diproduksi oleh PLTA Kayan sebagian besar akan dimanfaatkan untuk melistriki KIPI. Adapun sisanya akan digunakan sebagai basis ketahanan energi di Kalimantan.

Untuk pembagiannya, 70 persen dari total daya yang dihasilkan akan didistribusikan ke Kawasan Indutri dan Pelabuhan Internasional. Sedangkan 30 persen sisanya akan dialokasikan untuk kelistrikan di Kalimatan.

Dia menambahkan, jika PLTA Kayan sudah mampu menghasilkan listrik sebesar 9.000 MW, maka setrum yang dihasilkan dapat di ekspor ke Malaysia.

Dengan begitu, Indonesia yang pada mulanya mengimpor listrik dapat berubah menjadi pengekspor listrik.

“Malaysia sisi utara listriknya masih kurang, nanti ekspor ke sana. Bisa supply kelistrikan di Kalimantan,” ungkapnya.

Khaerony mengatakan, mega proyek ini juga didukung oleh Power China dan Central Asia Capital Ltd. Dengan membantu menyediakan dana investasi yang nilainya sangat besar.

“Investor kita dari Power China dengan Central Asia Capital Ltd.  Kurang lebih joint venture,” ujar Khaerony.

Adapun pembangunan PLTA di Sungai Kayan diperkirakan akan menghabiskan dana hingga 2,3 juta dolar Amerika Serikat (AS) hingga 2,7 juta dolar AS per megawattnya.

“Kurang lebih bendungan itu investasi 1 MW-nya 2,3-2,7 juta dolar AS,” beber Khaerony.

Jika kapasitas yang dihasilkan oleh PLTA Kayan adalah 9.000 MW, maka total biaya investasi diperkirakan mencapai 2,3-2,7 miliar dolar AS atau senilai Rp 289,8 triliun-Rp340,2 triliun. dengan asumsi satu dolar AS dibanderol Rp 14.000,-

Khaerony mengungkapkan, PT Kayan Hidro Energi akan memulai pelaksanaan konstruksi PLTA di Sungai Kayan pada akhir tahun 2019.

“Akhir tahun ini sudah pengerjaan tapi memang sempat mundur,” katanya.

Dia mengatakan, secara keseluruhan proses konstruksi PLTA Kayan akan memakan waktu hingga 20-25 tahun. Kendati demikian, dia memastikan pada tahun 2024, listrik yang diproduksi oleh PLTA Kayan sudah dapat digunakan melalui transmisi milik Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“PLTA Kayan 1 tahun ini dibangun, butuh waktu 5 tahun. Jadi udah ada listrik 900 MW di 2024,” tandasnya.