Energi Baru Terbarukan Jadi Fokus Utama Gerakan 1.000 Cahaya Muhammadiyah

Dalam upaya mendukung transisi energi berkelanjutan, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Muhammadiyah menyelenggarakan seminar lingkungan bertema “Sosialisasi 1.000 Surya dan Kajian Energi Baru Terbarukan (EBT) di Daerah Tropis Basah.” Acara ini diadakan di Laboratorium BKS Langse, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, dan diikuti oleh perwakilan MLH dari berbagai wilayah, baik secara offline maupun online melalui platform Zoom.

Seminar ini menampilkan beberapa pembicara terkemuka, termasuk Hening Parlan, Koordinator Program 1.000 Cahaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sobri, Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, dan Sutaryono selaku Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten.

Sutaryono yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten, membuka seminar energi baru terbarukan dengan menggarisbawahi krisis energi global yang disebabkan oleh ketergantungan pada bahan bakar fosil dan dampaknya terhadap perubahan iklim.

“Sebagian besar listrik yang kita gunakan saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil yang menimbulkan kerusakan lingkungan dan emisi karbon. Ini sangat mempengaruhi perubahan iklim,” kata Sutaryono dalam pidatonya.

Menanggapi tantangan ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Gerakan 1.000 Cahaya, sebuah inisiatif untuk mendorong penggunaan Energi Terbarukan di seluruh amal usaha Muhammadiyah. Program ini bertujuan untuk mempromosikan energi yang berkeadilan dan ramah lingkungan, serta berkontribusi pada upaya mencapai emisi nol bersih di Indonesia pada pertengahan abad ke-21.

“Gerakan 1.000 Cahaya adalah bukti komitmen kami untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan mendukung transisi energi berkelanjutan. Kami berharap ini akan menjadi model yang dapat ditiru oleh banyak pihak,” ujar Hening Parlan.

Pada tahap pertama, Gerakan 1.000 Cahaya akan fokus pada lingkungan sekolah, pondok pesantren, masjid, dan ranting Muhammadiyah, di mana instalasi energi terbarukan seperti panel surya akan dipasang untuk mengurangi ketergantungan pada listrik dari bahan bakar fosil.

Muhammad Sobri menjelaskan bahwa PWM Jawa Tengah telah memulai inovasi melalui pengembangan energi baru terbarukan Bioreaktor Kapal Selam (BKS), mengubah biogas dari kotoran ternak menjadi energi. Selain itu, mereka juga menggunakan sistem penyiraman berbasis Internet of Things (IoT) yang didukung oleh panel surya.

“Inovasi ini menunjukkan potensi besar dalam memanfaatkan sumber energi terbarukan secara efektif dan efisien,” kata Sobri.

Gerakan 1.000 Cahaya juga diharapkan dapat menginspirasi perguruan tinggi, sekolah, dan amal usaha Muhammadiyah lainnya untuk mengadopsi teknologi energi baru terbarukan. “Bayangkan, jika semua 177 perguruan tinggi Muhammadiyah, ribuan sekolah, dan berbagai amal usaha kami menggunakan energi terbarukan, dampak positifnya terhadap lingkungan dan penghematan biaya listrik akan sangat besar,” tambah Hening.

Demikian informasi seputar transisi energi baru terbarukan yang digagas oleh MLH Muhammadiyah. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Sahabatsinergi.Com.

You may also like...